Nov 10, 2008

Pilih Kuliah atau Kerja??

Pilih Kuliah atau Kerja??

Sorry pren, ini bukan iklan rokok, tapi aku memang sedang mikirin kata-kata dalam iklan yang ku liat di tivi itu. So pasti dengan secangkir kopi hangat dan sebatang rokok yang sedang di iklaninnya. Kalau dipikir-pikir ya susah juga ya nyari jawabannya. Coba deh kita Flash Back lagi.

Dulu ketika kita masih kecil-kecil, sewaktu otak kita mulai belajar nge-save Memory , entah itu waktu masih TK, atau ketika masih duduk di SD, orang tua kita sering menasehati kita,” Kamu harus rajin belajar supaya sekolahnya pinter. Supaya kalau besar nanti kamu jadi orang pinter, nggak di bodoh-bodohi sama orang yang lebih pinter (apa memang iya orang pinter suka membodohi orang yang kurang pinter ya ??). Kalau kamu sekolahnya pinter, pasti masa depanmu akan lebih baik dari pada kamu nggak pinter. Kalau kamu pinter, kamu pasti bisa mau sekolah dan kuliah kemana aja bisa. Setelah selesai Kuliah, kamu bisa kerja apa saja yang kamu mau, karena kamu pasti bisa, sebab kamu orang pinter. Yang penting kamu harus rajin belajar supaya pinter, supaya kalau kamu besar nanti nggak susah hidupmu, nggak susah nyari makan”, begitulah kira-kira nasehat orang tua kita sewaktu kita kecil dulu. Mungkin waktu itu kita belum mengerti betul apa makna dari nasehat itu, tapi setelah kita beranjak dewasa, baru kita mengerti apa artinya semua perkataan orang tua kita itu.

Siapa sih yang nggak mau masa depannya cerah? Tidak seorangpun mau hidup miskin. Semua orang pasti punya cita-cita yang tinggi, harapan masa depan yang cerah, dan sudah pasti kesejahteraan, kemakmuran, serta kebahagian dimasa depan. Itu wajr, karena itu memang sifat dasar setiap manusia. Alur cerita yang lazim di benak masyarakat kita adalah, bahwa setiap orang harus sekolah yang tinggi, agar gampang cari kerja dengan gaji yang besar, minimal cukup layak untuk dikatakan sejahtera. Walapun kenyataannya masih banyak sarjana yang menganggur, entah karena mereka gengsi di bayar dengan gaji yang memang pas-pasan untuk fresh graduate, atau memang mereka nggak lulus-lulus setiap ada tes penerimaan karyawan. Yang jelas kuliah dan gelar kesarjanaan bukan lagi untuk meningkatkan status sosial dan prestise seseorang seperti di era 80 an. Tapi kini gelar kesarjanaan merupakan rangkaian wajib bagi rantai pendidikan. Ibarat kata, sekolahnya belum afdol kalau belum menggondol gelar sarjana.

Cuma masalahnya, nggak semua orang mampu mewujudkan jalan menuju harapan masa depan mereka. Umumnya rata-rata siswa tamatan SMU punya keinginan melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah. Namun terkadang faktor ekonomilah yang membuat mereka nggak mampu untuk mewujudkan keinginan mereka. “ Buat apa sih Nduk kamu sekolah tinggi-tinggi kalau ahirnya kamu ke dapur juga? Biaya kuliahkan mahal. Dari mana uangnya? Mendingan kamu nyari kerja aja, jadi bisa bantu-bantu bapak nyekolahin adik-adikmu. Syukur-syukur di tempat kerjamu kamu ketemu jodoh yang mapan”. Mungkin kalimat itulah yang dulu sering terdengar dikalangan anak perempuan yang pengen melanjutkan kuliahnya. Namun ada juga sebagian kecil tamatan SLTA yang benar-benar nggak mampu kuliah karena memang malas, merasa otaknya nggak mampu menangkap pelajaran kuliah, antenanya pendek, alias lemot. Padahal dari segi financial, mereka adalah anak-anak orang berkecukupan. “Jangankan kuliah, sudah bisa lulus SMA aja sudah syukur. Bosen ah sekolah melulu”, begitu rata-rata jawaban mereka. Walaupun ada juga sebagian kecil lainnya nggak melanjutkan ke bangku kuliah karena punya alasan-alasan lain seperti mau bisnis, dan lain-lain.

Kalau dipikir-pikir, ada benernya juga sih mereka merasa bosan belajar melulu. Bayangin aja, umur 3 atau 4 tahun mulai masuk play group, umur 5 tahun TK, kemudian masuk SD selama 6 tahun, di SMP 3 tahun, SMA 3 tahun, Kuliah rata-rata 5 tahun. Kalau di hitung dari TK aja sampai selesai sarjana rata-rata 18 tahun (1 th TK + 6 Th SD + 3 SMP + 3 Th SMA + 5 Th Universitas), ya bosan juga sih. Bayangin aja kalau kita hidup di jaman kerajaan tempo dulu, belajar Ilmu 18 taon berguru sama Brama Kumbara, wah pasti sudah sakti mandraguna. Tapi sekarang ini kan jaman canggih, dan sebagai seorang anak kewajiban kita adalah belajar. Sebagai masyarakat usia belajar kita memang di tuntut oleh lingkungan untuk menyelesaikan pendidikan minimal tingkat Strata 1. Kalau boleh kita katakan dengan istilah Investasi, maka pendidikan 18 tahun tersebut adalah Investasi jangka panjang kita. Karena dari kecil memang kita sudah di persiapkan untuk menghadapi masa depan, disekolahkan sampai besar, supaya bisa hidup sejahtera. Tapi itulah hidup. Hidup adalah proses pembelajaran tiada henti.

Lantas apakah dengan bekal ijasah kesarjanaan sudah pasti mendapat pekerjaan yang sesuai dengan gaji yang layak? Ya belum tentu juga sih. Itu juga masih tergantung atas perjuangan dan kemampuan kita sewaktu tes penerimaan karyawan. Buktinya sarjana yang menganggur terus bertambah setiap tahunnya. Tapi kan setidaknya kita sudah punya bekal untuk bertempur memperebutkan peluang dari lowongan yang ada. Walaupun mungkin pebandingannya 1 banding 100, bahkan lebih. Apakah dengan berbekal ijasah SLTA saja tidak bisa mendapat pekerjaan? Ya bisa saja, walaupun peluangnya sangat kecil. Buktinya banyak juga yang cuma tamatan SLTA bisa mendapatkan pekerjaan, mungkin karena memang ada kesempatan dan nasib baik yang menyertai. Walaupun sebagian dari mereka banyak yang melanjutkan ke bangku kuliah sambil bekerja (ketika sudah dapat pekerjaan).

Jadi buat apa kuliah kalau kalau tamat SMA pun bisa dapat kerja? Toh selesai kuliahpun belum tentu dapat kerjaan. Dan bukankah kita disekolahkan dari kecil (lazimnya) supaya nanti kalau besar gampang nyari kerja?

Yah, itulah hidup. Hidup adalah proses pembelajaran tiada henti.

No comments:

There was an error in this gadget

NEW SUMMARY

JOB IS FIRST

Custom Search